Affandiramzani's Blog

Desember 15, 2009

Dampak el nino dan la nina terhadap sektor kelautan

Filed under: Uncategorized — affandiramzani @ 1:12 pm

Bagi Indonesia sendiri, WOC hanya akan bermakna, bila sejumlah kesepakatan yang dihasilkannya dapat mendukung pembangunan kelautan nasional secara berkelanjutan.

Agar tujuan WOC itu tercapai, Indonesia secara elegan memaparkan kebijakan dan program pembangunan kelautan nasional yang selama ini telah memberikan kontribusi terhadap penyelamatan laut dunia. Kita juga perlu mengajak masyarakat internasional untuk membantu kita dalam menjadikan laut Nusantara selain sebagai sumber kesejahteraan bangsa, juga sebagai pengendali iklim global dan penyedia fungsi penunjang kehidupan (life-supporting functions) dunia.

Kelautan nasional

Sebagai negara maritim dan kepulauan terbesar di dunia dengan tiga per empat wilayahnya berupa laut (5,8 juta km2) yang mempersatukan lebih dari 17.500 pulau, dan dikelilingi oleh 81.000 km garis pantai (terpanjang kedua setelah Kanada), wilayah pesisir dan lautan Indonesia mengandung kekayaan alam yang luar biasa besar dan beragam. SDA (sumber daya alam) itu ada yang terbarukan (seperti perikanan, senyawa bioaktif untuk berbagai industri bioteknologi, terumbu karang, mangrove, rumput laut, dan padang lamun); yang tak terbarukan (seperti minyak dan gas bumi, gas hidrat, bijih besi, timah, bauksit, emas, tembaga, mangan, dan mineral lain); serta energi kelautan termasuk energi pasang surut, gelombang, angin, dan OTEC (Ocean Thermal Energy Conversion).

Segenap SDA dan jasa-jasa lingkungan laut itu telah kita manfaatkan sejak lamanya melalui berbagai kegiatan (sektor) pembangunan termasuk perikanan tangkap, perikanan budidaya (mariculture dan tambak), industri bioteknologi, pertambangan dan energi, pariwisata bahari, transportasi dan komunikasi, serta industri dan jasa maritim. Pada tahun 2007 kontribusi sejumlah sektor kelautan tersebut terhadap perekonomian nasional sekitar 25% GDP (US$ 100 miliar), jauh lebih kecil ketimbang potensi totalnya sebesar US$ 800 miliar per tahun.

Ekosistem laut tropis Indonesia juga merupakan pendendali dinamika iklim global seperti El-Nino (kekeringan), La-Nina (banjir), dan ENSO (El-Nino Southern Oscillation). Karena memiliki hamparan terumbu karang, padang lamun, dan rumput laut terluas di dunia, laut Indonesia dapat menyerap karbon lebih besar ketimbang wilayah laut lainnya. Secara global, ekosistem laut dunia menyerap karbon sekitar 92 miliar ton/tahun, dan melepaskannya sebesar 90 miliar ton/tahun (UNEP, 2009). Lebih dari itu, sebagai pusat dari segi tiga karang dunia (Coral Triangle), laut Indonesia memiliki keanekaragaman hayati tertinggi dan merupakan pusat plasma nutfah lautan dunia. Laut Nusantara yang menghubungkan Samudera Pasifik dan Hindia juga merupakan daerah pemijahan (spawning grounds), daerah asuhan (nursery grounds), tempat mencari makan (feeding grounds), dan alur ruaya (migartory routes) cetaceans (paus dan dolpin), ikan tuna, cakalang, dan ikan pelagis besar lainnya.

Tak heran, bila pola pembangunan kelautan di masa lalu dicirikan oleh rendahnya muatan IPTEK, kurang efisien, top-down, dan ekstraktif kurang mengindahkan kelestarian lingkungan dan SDA. Akibatnya, sebagian besar nelayan dan masyarakat pesisir (65%) masih terlilit kemiskinan. Sementara itu, kerusakan ekosistem pesisir vital (mangroves, terumbu karang, estuaria, dan pantai), pencemaran, overfishing, pengikisan biodiversity, dan tekanan lingkungan lainnya melanda beberapa wilayah pesisir (seperti Selat Malaka, Pantura, sebagian P. Bali, Pantai Selatan Sulsel, antara Balikpapan dan Bontang, dan estuaria S. Aijkwa di Papua) pada tingkat yang telah mengancam kapasitas keberlanjutan ekosistem pesisir dan lautan untuk mendukung pembangunan ekonomi di masa mendatang.

kesimpulan

Oleh sebab itu, selain memasukkan isu kelautan ke dalam setiap perundingan dan kesepakatan internasional tentang perubahan iklim global, dan disepakatinya Coral Triangle Initiative (CTI), Indonesia juga harus menjadikan WOC sebagai momentum untuk menggalang dukungan internasional dalam mewujudkan pembangunan kelautan nasional secara efisien, adil, dan berkelanjutan. Dukungan pertama adalah berupa transfer teknologi dari negara-negara industri maju tentang metoda dan teknik pendayagunaan sumberdaya kelautan secara produktif, efisien, dan ramah lingkungan. Investasi langsung yang produktif, saling menguntungkan, dan berkelanjutan di bidang kelautan dari para investor negara-negara maju di Indonesia juga mesti dipacu lebih tinggi guna memerangi pengangguran dan kemiskinan sesuai target MDG’s (Millenium Development Goals).

Yang kedua adalah agar negara-negara yang selama ini melakukan penangkapan ikan secara ilegal (Illegal fishing) dan kejahatan lingkungan di wilayah perairan teritorial, nusantara, dan ZEE Indonesia sepakat secara hukum (legally binding) tidak lagi mempraktekkan kegiatan terlarang ini. Demikian juga halnya dengan negara pemilik kapal-kapal tanker, niaga, dan lainnya yang melintasi ALKI (Alur Laut Kepulauan Indonesia) harus sepakat tidak lagi membuang limbah melebihi ketentuan internasional (seperti MARPOL) ke wilayah laut Indonesia. Yang terakhir, WOC juga harus menelorkan kesepakatan global tentang perdagangan internasional yang bebas dan adil (free and fair trade) terkait dengan segenap barang dan jasa kelautan.

Apabila hasil WOC ini dibarengi dengan perubahan paradigma pembangunan nasional, dari berbasis daratan menjadi berbasis kelautan dan kepulauan, maka diyakini pada 2030 Indonesia bakal menjadi negara maju yang makmur dan berdaulat.

About these ads

16 Komentar »

  1. adakah yg dpat kita perbuat di kehidupan nyata untuk hal ini???
    bisakah???
    tengkyu…

    Komentar oleh Rina Panjaitan — Januari 4, 2010 @ 12:52 pm | Balas

    • bisa,dengan melestarikan dan menjaga kekayaan alam sekitar contohnya laut.seperti menangkap ikan dengan racun dan memakai bom yang bisa membuat kelastarian laut tercemar dan merusak karang”.

      Komentar oleh affandiramzani — Januari 4, 2010 @ 5:04 pm | Balas

  2. comment yg aq cepetan ok???
    aq tunggu…

    Komentar oleh Rina Panjaitan — Januari 4, 2010 @ 12:53 pm | Balas

  3. saya ingin mengomentari kesimpulan yang anda buat pada blog anda..

    Apa yang terjadi apabila paradigma program pembangunan pemerintah yang berbasis daratan langsung diubah kepada paradigma pembangunan berbasis kelautan? Sementara yang kita tahu bahwa program pembangunan pemerintah berbasis daratan saja belum cukup untuk memajukan bangsa ini.

    Komentar oleh bennyyohanespanjaitan — Januari 4, 2010 @ 2:41 pm | Balas

    • menurut saya:jika paradigma diubah ke paradigma kelautan akan menyebabkan kurang efisiennya pembangunan ekonomi indonesia.contohnya kita belum memanfaatkan fakta geografis negara maritim dan kepulauan terbesar di bumi ini sebagai keunggulan kompetitif bangsa,Indonesia adalah negara maritim dan kepulauan terbesar di dunia. Sekitar tiga perempat wilayahnya berupa laut seluas 5,8 juta km2 yang mempersatukan 17.504 pulau dengan 95.161 km garis pantai, terpanjang kedua setelah Kanada. Dalam wilayah pesisir, pulau-pulau kecil dan lautan itu terdapat potensi berbagai SDA dan jasa-jasa lingkungan yang sangat besar, yang hingga kini belum dimanfaatkan secara optimalsedangkan paradigma kelautan seharusnya lebih bisa dikembangkan karena bisa membuat negara kepulauan indonesia menjadi negara kepulauan yg sangat kaya akan budi daya perikanan dan kepulauan yg sangat luas seperti industri pengolahan hasil perikanan,pariwisata bahari dan sumber daya pulau” kecil harus di lestarikan dan lebih di manfaatkan..

      Komentar oleh affandiramzani — Januari 4, 2010 @ 4:56 pm | Balas

  4. Cuy penjelasan El Nino dan La Nina sangat kurang ceuk urg mah.
    Cuy sebenernya apa si dampak dari El Nino dan La Nina bagi sektor kelautan Indonesia ? ?

    Komentar oleh candraperkasanurlukman — Januari 4, 2010 @ 11:03 pm | Balas

    • aduh sory lur ya mau gmn lgh ya….ituh juga urang mikir sorangan eyyyy…sampe otak urang mau pecah mikiran sekitu we..maklum ok lurr…

      dari blog yg prnh saya baca jd begini dampakny.
      El Nino juga bisa mengancam kehidupan nelayan tradisional di Indonesia. para nelayan hanya bisa pasrah dan menunggu El Nino berlalu karena mereka tidak mempunyai alat yang memadai untuk menangkap ikan. Melihat kejadian ini seharusnya pemerintah lebih serius dalam mengatasi masalah nelayan ini.

      Komentar oleh affandiramzani — Januari 5, 2010 @ 10:14 am | Balas

  5. fandi nais mau nanya niih..

    menurut fandi untuk saat ini apakah hasil dari CTI dan WOC ada pengaruh nya terhadap indonesia ?? okeee makasi yaaah

    Komentar oleh naisannisa — Januari 5, 2010 @ 2:52 am | Balas

    • ada,,,,,
      hasil dari konfrensi ini secara umum untuk memberikan kontribusi dalam memberikan solusi terhadap dampak dan ancaman perubahan iklim terhadap laut dan sebaliknya pengaruh laut terhadap perubahan iklim.
      dan dampak buat indonesia proyek ini menyebutkan sebagai pembangunan ekonomi melalui cagar laut, yang diterapkan dengan dua pendekatan: pertama, sistem tarif masuk di kawasan Raja Ampat, Kaimana; kedua, promosi pariwisata bahari bekerjasama dengan sektor swasta. Jauh hari sebelumnya, ekspansi industri pariwisata mudah ditemukan dihampir seluruh kawasan konservasi laut. Di Taman Nasional Komodo, TNC kabarnya memiliki 60 persen saham PT Putri Naga Komodo, pengelola wisata satu-satunya di pulau Komodo.

      Komentar oleh affandiramzani — Januari 5, 2010 @ 10:32 am | Balas

  6. fan nanya ya,,,
    ad ga dampak el nino yg positif dan la nina yg positif??
    jelasin ya,,

    Komentar oleh laluauliyaakraboe — Januari 5, 2010 @ 3:41 am | Balas

    • dampk positif dari el nino tu menyebabkan ikan tuna bermigrasi ke indonesia. karena pas ada el nino perairan timur samudra hindia mendingin,sedangkan yang berada di barat Sumatera dan selatan Jawa menghangat. jadi ketika terjadi El Nino, ikan tuna di Pasifik bergerak ke timur. Namun, ikan yang berada di Samudera Hindia bergerak masuk ke selatan Indonesia.

      menurut saya begitu….

      Komentar oleh affandiramzani — Januari 5, 2010 @ 10:36 am | Balas

  7. menurut anda apakah dampak bisa di kurangi bagi sektor kelautan, sehingga dampak dari elnino ini tidak begitu menggangu bagi sektor kelautan?

    Komentar oleh satriokelautan — Januari 5, 2010 @ 4:47 am | Balas

    • biasa,,,,,,,,,,

      dengan menggunakan berbagai upaya,,,
      seperti mengsosialisasikan masyarakat pesisir dan dari pemerintah juga sudah melakukan berbagai upaya seperti:
      1. membentuk laisson officer (LO) yang dilengkapi SMS center dan berfungsi untuk menumbuhkan keperdulian dan kehati-hatian masyarakat luas (public awarness) dalam mengelola dan memanfaatkan sumber air, mengolah lahan dan lingkungan, memilih varietas dan bercocok tanam dalam situasi El Nino, mencatat serta melaporkan kejadian kekeringan dalam dimensi ruang dan waktu, dan memberi arahan , solusi serta pendampingan terkait pengelolaan air, tanah dan tanaman.
      2. menanamkan benih atau bibit-bibit unggul
      3. menaikan muka air dengan cara dam parit untuk mengairi lahan budidaya
      4. menerapkan irigasi intermiten, bergilir dan irigasi tetes
      5. meningkatkan efisiensi pemanfaatan air pada daerah daerah rawan kekeringan, termasuk didalamnya adalah memperbaiki saluran irigasi
      6. menyiapkan saran dan prasarana untuk mentransfer air antar wilayah

      Komentar oleh affandiramzani — Januari 5, 2010 @ 7:44 pm | Balas

  8. fan,, mau nanya dikit.. hhe

    jadi sebenernya dampak el nino dan la nina terhadap ekosistem hewan yang ada di laut tu apaan sii?

    thx fan….

    Komentar oleh regivigavialli — Januari 5, 2010 @ 4:59 am | Balas

    • menurut saya kan el nino itu menghangatkan suhu ermukaan laut dan itu akan menyebabkan coral bleaching dan otomatis ekosistem hewan laut pun terganggu.

      Komentar oleh affandiramzani — Januari 5, 2010 @ 7:49 pm | Balas

  9. wah blog anda cukp bagus bung affandi,,
    tpi kok kliatan sangat singkt y?
    apa sudh memenuhi minmal 800 kata??

    ok mau nanya ni,,
    d jawab y boy,,
    simple kok prtnyaan saya,

    menurut anda,
    apakah global warming saat ini adalah sebuah isu belaka?
    jika iya beruapa isu apakah kita harus membiarkan isu itu berlalu begitu aja,??
    jika tidak beruapa isu, dan bner2 ada saat ini,
    langkah2 anda sendiri kedepan atau langkah saat ini untuk mencegah pemanasan global apa,???

    terimkasih,,
    heeheheheee. . .

    Komentar oleh josuasilitonga — Januari 5, 2010 @ 6:00 am | Balas


Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The Rubric Theme. Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: